Lebih Dari Sekadar Lagu Anak: Kisah dan Makna di Balik Ampar-Ampar Pisang

Kalau kamu pernah duduk di bangku Taman Kanak-kanak atau Sekolah Dasar di Indonesia, hampir bisa dipastikan kamu pernah menyanyikan lagu ini. Iramanya yang ceria, liriknya yang sederhana, dan gerakannya yang lucu membuat "Ampar-Ampar Pisang" menjadi salah satu lagu daerah yang paling melekat di memori kolektif kita. Tapi, pernahkah kamu bertanya-tanya, lagu ampar-ampar pisang berasal dari daerah mana sebenarnya? Atau apa cerita di balik lirik "ditumbuk sambil marintang" itu? Ternyata, di balik kesederhanaannya, lagu ini menyimpan jejak budaya, sejarah kuliner, dan kearifan lokal yang menarik untuk kita telisik lebih dalam.

Asal-Usul yang Terkubur dalam Irama: Menelusuri Daerah Kelahiran Lagu

Pertanyaan "lagu ampar-ampar pisang berasal dari daerah mana?" punya jawaban yang cukup jelas, namun seringkali terlupakan karena lagunya sudah begitu nasional. Lagu "Ampar-Ampar Pisang" adalah lagu daerah yang berasal dari Kalimantan Selatan, tepatnya dari suku Banjar. Suku Banjar, dengan kebudayaan Melayu yang kental, memiliki kekayaan tradisi lisan, termasuk lagu-lagu dolanan anak yang sarat nilai. Lagu ini adalah salah satu mahakarya kecil yang berhasil melintasi batas pulau dan menjadi milik semua anak Indonesia.

Konon, lagu ini bukan sekadar lagu pengiring permainan. Ia adalah gambaran langsung dari kehidupan sehari-hari masyarakat Banjar, khususnya dalam mengolah salah satu hasil bumi utama: pisang. Proses "mengampar" atau menjemur pisang untuk diolah menjadi makanan seperti kue rimpi atau pisang sale adalah pemandangan biasa. Lagu ini merekam aktivitas itu dalam bentuk yang mudah dicerna oleh anak-anak, sekaligus menjadi medium pewarisan pengetahuan budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Mengurai Lirik: Bukan Cuma Kata, Tapi Proses Budaya

Mari kita kupas liriknya satu per satu untuk memahami konteks budayanya:

  • "Ampar-ampar pisang": Ini adalah inti dari lagu. "Mengampar" berarti menghamparkan, menjemur, atau mengeringkan di bawah terik matahari. Pisang yang biasanya dijadikan sale adalah jenis pisang tertentu seperti pisang raja atau pisang awak.
  • "Pisangku balum masak": Mengindikasikan bahwa proses pengolahan dimulai dari pisang yang masih mentah atau setengah matang, yang lebih cocok untuk dijadikan sale karena teksturnya.
  • "Masak sabigi di hurung bara": Ini bagian yang paling puitis. "Sabigi" artinya sebiji, satu biji. Jadi, ada satu pisang yang dimasak secara khusus dengan cara dibakar di bara api. Ini mungkin menggambarkan selingan atau cara cepat menikmati satu pisang sambil menunggu yang lain dijemur.
  • "Manggang lepak-lepak": "Manggang" jelas berarti membakar. "Lepak-lepak" diduga merupakan onomatopeia (kata tiruan bunyi) untuk suara pisang yang dibakar di bara, atau menggambarkan posisi pisang yang dibaringkan di atas bara.
  • "Ngambang di atas taangkaya": "Ngambang" berarti terapung. "Taangkaya" (atau sering dilafalkan 'tangkaya') adalah wajan atau kuali besar. Ini mungkin metafora untuk pisang yang seolah-olah "terapung" di atas bara panas saat dibakar.
  • "Nang mana batis kawa dijual": "Nang mana" (di mana), "batis" (batang, tapi dalam konteks ini bisa berarti 'yang batangnya' atau 'yang banyak'), "kawa dijual" (bisa dijual). Ini menunjukkan tujuan ekonomi dari aktivitas ini: pisang-pisang yang diolah dengan baik nantinya bisa dijual ke pasar.
  • "Nang mana batis kawa diumpat": "Diumpat" artinya dimakan. Jadi, selain untuk dijual, hasilnya juga tentu untuk dinikmati sendiri oleh keluarga.
  • "Jual batis mahal mahal": Pesan untuk menjualnya dengan harga yang pantas, tidak murah-murahan, karena proses membuatnya membutuhkan usaha dan waktu.
  • "Untuk beli mobil": Ini adalah bagian yang paling modern dan sering dianggap sebagai improvisasi atau pengembangan belakangan. Menggambarkan cita-cita atau impian yang bisa dicapai dari hasil usaha sederhana.

Dari Kalimantan ke Seluruh Nusantara: Perjalanan Sebuah Lagu Dolanan

Lalu, bagaimana lagu dari Kalimantan Selatan ini bisa menjadi begitu populer di Jawa, Sumatra, Sulawesi, dan daerah lain? Kuncinya ada pada program pemerintah Orde Baru melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Lagu-lagu daerah dipilih, distandardisasi, dan dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan, khususnya di tingkat Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar. "Ampar-Ampar Pisang" dengan iramanya yang catchy dan mudah dihafal, menjadi salah satu yang paling sukses diadopsi.

Selain itu, lagu ini sering diiringi dengan permainan sederhana. Biasanya, anak-anak duduk berhadapan atau melingkar sambil menepuk-nepukkan tangan ke tangan teman di kanan dan kirinya, mengikuti irama lagu. Aspek "bermain" inilah yang membuatnya mudah diterima oleh anak-anak dari berbagai budaya, tanpa perlu penjelasan rumit tentang asal-usulnya. Mereka menikmati irama, tertawa, dan bermain. Dalam proses itu, tanpa disadari, mereka juga belajar tentang sebuah tradisi dari daerah lain.

Ampar-Ampar Pisang dalam Konteks Kekinian: Masih Relevankah?

Di era digital dimana anak-anak lebih akrab dengan lagu-lagu TikTok viral, apakah lagu seperti "Ampar-Ampar Pisang" masih punya tempat? Jawabannya, justru sekarang lebih penting dari sebelumnya. Lagu ini bukan sekadar hiburan, ia adalah cultural artifact atau artefak budaya. Ia berfungsi sebagai:

  1. Penghubung Antar Generasi: Orang tua dan guru bisa menggunakan lagu ini untuk bercerita tentang masa kecil mereka, menciptakan ikatan emosional.
  2. Pengenalan Keanekaragaman: Lagu ini adalah pintu masuk yang sempurna untuk memperkenalkan anak pada peta budaya Indonesia yang kaya. Dari pertanyaan sederhana "lagu ampar-ampar pisang berasal dari daerah mana?", percakapan bisa berkembang ke suku Banjar, rumah adatnya, makanannya, dan seterusnya.
  3. Pelestarian Bahasa Daerah: Lagu ini mengabadikan kosakata bahasa Banjar seperti "ampar", "sabigi", "hurung", dan "diumpat".
  4. Inspirasi Konten Kreatif: Banyak musisi dan konten kreator yang mengaransemen ulang lagu ini dengan genre pop, jazz, atau bahkan elektronik, memberinya napas baru dan menarik minat generasi muda.

Lebih Dalam dari Lagu: Tradisi Mengampar Pisang di Kalimantan

Untuk benar-benar menghargai lagu ini, kita perlu memahami praktik nyata di baliknya. Mengampar pisang adalah langkah awal dalam pembuatan kue rimpi atau pisang sale khas Banjar. Pisang yang sudah dikupas dijemur selama beberapa hari hingga kering, lalu dibumbui dengan gula dan rempah, sebelum akhirnya digoreng atau dihidangkan. Aktivitas ini biasanya dilakukan secara komunal oleh para ibu, sambil mengobrol dan menjaga pisang dari ancaman hujan atau hewan. Lagu "Ampar-Ampar Pisang" dengan cermat merefleksikan suasana kebersamaan dan kerja keras ini.

Jadi, lagu ini sebenarnya adalah soundtrack dari sebuah proses produksi pangan tradisional. Ia mengajarkan pada anak-anak, secara halus, tentang nilai kerja, kesabaran (menunggu pisang masak dan kering), dan kewirausahaan (jual batis mahal-mahal).

Membedah Melodi dan Struktur: Simpel Tapi Mengena

Dari sisi musik, lagu ini dibangun dari tangga nada pentatonis yang umum dalam musik tradisi Nusantara. Iramanya 4/4 dengan pola yang berulang, membuatnya sangat mudah diingat. Struktur lagunya seperti sebuah narasi berantai yang menceritakan proses secara berurutan: dari mengampar, membakar satu biji, hingga menjualnya. Kesederhanaan inilah justru kekuatannya. Ia seperti kanvas kosong yang bisa dihiasi dengan berbagai gerakan dan variasi permainan, berbeda-beda di setiap daerah yang mengadaptasinya.

Warisan yang Harus Terus Dinyanyikan

Jadi, lain kali kamu mendengar atau teringat lagu "Ampar-Ampar Pisang", ingatlah bahwa itu bukan sekadar rangkaian nada dan kata. Ia adalah potret hidup masyarakat Banjar, sebuah dokumentasi audio tentang kearifan lokal mengolah hasil bumi, dan bukti bahwa budaya bisa menyebar dengan cara yang paling menyenangkan: melalui lagu dan permainan anak-anak. Mengetahui bahwa lagu ampar-ampar pisang berasal dari daerah Kalimantan Selatan adalah langkah pertama. Langkah selanjutnya adalah meneruskan ceritanya, menyanyikannya untuk anak-anak kita, dan mungkin, suatu hari nanti, mencoba untuk membuat kue rimpi sendiri. Dengan begitu, kita tidak hanya melestarikan sebuah lagu, tetapi juga menjaga nyala dari tradisi yang melahirkannya.