Lebih Dari Sekadar Lagu Nostalgia: Apa Sebenarnya Makna Que Sera Sera dalam Hidup Kita?

Kalau kamu pernah mendengar lagu legendaris yang dinyanyikan oleh Doris Day, atau mungkin versi yang lebih baru dari Sisca Kohl atau bahkan di film horor "The Conjuring", pasti kamu familiar dengan kalimat "Que Sera, Sera. Whatever will be, will be". Liriknya sederhana, melodinya mudah diingat, dan seringkali kita menyanyikannya tanpa benar-benar memikirkan artinya. Tapi, pernah nggak sih kamu berhenti sejenak dan bertanya-tanya: que sera sera artinya apa, sih, sebenarnya? Apakah ini sekadar frasa pesimis untuk pasrah, atau justru ada filosofi hidup yang dalam di baliknya?

Artikel ini nggak cuma akan mengartikan kata per kata, tapi kita akan menyelami bagaimana que sera sera bisa menjadi lensa untuk melihat ketidakpastian hidup, mengelola ekspektasi, dan menemukan kedamaian di tengah segala rencana yang berantakan. Karena ternyata, di dunia yang penuh target, to-do list, dan tekanan untuk mengontrol segalanya, frasa dari bahasa Spanyol-Italia ini punya pesan yang sangat relevan.

Asal-Usul dan Terjemahan Harfiah: Bukan Cuma dari Lagu

Pertama, mari kita bedah dari segi bahasa. "Que Sera, Sera" sering dianggap berasal dari bahasa Spanyol, tapi sebenarnya bentuknya tidak sepenuhnya gramatikal dalam Spanyol modern. Frasa yang lebih tepat dalam Spanyol adalah "Lo que será, https://renatovicario.com será" yang artinya "Apa yang akan terjadi, akan terjadi". Frasa ini juga punya kemiripan dengan bahasa Italia, "Che sarà, sarà". Intinya, di mana pun asalnya, makna intinya sama: sebuah pengakuan tentang takdir atau masa depan yang belum tertulis.

Jadi, que sera sera artinya secara harfiah adalah "apa yang akan terjadi, akan terjadi". Tapi, seperti banyak filosofi sederhana, kekuatannya justru terletak pada interpretasi dan penerapannya dalam konteks yang lebih luas. Ini bukan kalimat pasif, melainkan sebuah pernyataan tentang realitas.

Dari Lagu ke Filosofi Populer: Doris Day dan Penyebarannya

Lagu "Que Sera, Sera (Whatever Will Be, Will Be)" pertama kali dipopulerkan oleh Doris Day dalam film Alfred Hitchcock tahun 1956, "The Man Who Knew Too Much". Lagu ini kemudian memenangkan Academy Award untuk Best Original Song. Keindahannya terletak pada narasi sederhana: seorang anak bertanya pada ibunya tentang masa depannya (apakah akan kaya, tampan, dll), dan sang ibu selalu menjawab dengan kalimat yang sama, "Que Sera, Sera". Lagu itu kemudian berlanjut hingga si anak menjadi orang tua dan memberikan jawaban yang sama pada anaknya.

Melalui lagu inilah frasa tersebut menyusup ke budaya pop global. Ia menjadi soundtrack bagi perasaan pasrah yang manis, penerimaan terhadap alur hidup. Tapi, apakah pesannya sesederhana "pasrah saja"?

Que Sera Sera: Antara Pasrah dan Kebijaksanaan Aktif

Di sinilah interpretasinya menjadi menarik. Banyak orang salah kaprah menganggap que sera sera sebagai ajaran untuk menyerah, bermalas-malasan, dan tidak berusaha karena "pada akhirnya takdir yang menentukan". Padahal, kalau kita renungi lebih dalam, filosofinya justru lebih mirip dengan konsep "detachment" atau "ikhtiar dan tawakkal" dalam banyak ajaran.

Bayangkan kamu seorang petani. Kamu tidak bisa mengontrol cuaca, harga pasar global, atau serangan hama tiba-tiba. Tapi, kamu tetap mengolah tanah, menanam bibit terbaik, dan merawatnya seoptimal mungkin. Que sera sera artinya dalam konteks ini adalah: "Aku sudah melakukan bagianku. Hasil panen nanti, terserah pada faktor-faktor di luar kendaliku. Aku akan menerima apapun hasilnya." Ini adalah kebijaksanaan aktif, bukan kepasifan.

Seni Melepaskan Kontrol yang Ilusif

Manusia modern seringkali terjebak dalam ilusi kontrol. Kita pikir dengan perencanaan yang detail, asuransi yang lengkap, dan analisis risiko, kita bisa mengarahkan hidup sesuai keinginan. Padahal, hidup selalu punya kejutan. Pandemi, kehilangan pekerjaan, pertemuan tak terduga, kegagalan mendadak—semua ini adalah pengingat bahwa kita tidak memegang kendali penuh.

Di sinilah que sera sera berperan sebagai penyeimbang. Ia mengajak kita untuk membedakan antara:

  • Area yang bisa kita kendalikan: Usaha, niat, sikap, reaksi, dan etos kerja kita.
  • Area yang tidak bisa kita kendalikan: Hasil akhir, pendapat orang lain, kondisi ekonomi, perilaku orang lain, dan takdir.

Dengan memfokuskan energi hanya pada area pertama, kita mengurangi kecemasan dan kekecewaan yang berasal dari area kedua. Frasa ini adalah mantra untuk melepaskan beban hasil akhir yang seringkali membebani proses.

Penerapan Que Sera Sera dalam Kehidupan Sehari-hari

Lalu, bagaimana caranya kita membawa semangat que sera sera ke dalam rutinitas tanpa menjadi apatis? Berikut beberapa contoh konkret:

1. Dalam Karier dan Pencapaian

Kamu mungkin sedang mengejar promosi, membangun bisnis, atau mengerjakan proyek besar. Berikan yang terbaik, pelajari semua yang perlu dipelajari, dan jaringan seluas mungkin. Tapi, setelah wawancara kerja selesai atau proposal dikirim, katakan dalam hati, "Que sera, sera". Kamu sudah melakukan bagianmu. Keputusan perekrut, kondisi pasar, atau faktor kompetisi adalah di luar kendalimu. Ini mencegahmu dari overthinking dan membantumu move on lebih cepat, baik untuk merayakan kesuksesan atau bangkit dari kegagalan.

2. Dalam Hubungan dan Cinta

Pernah merasa cemas apakah hubunganmu akan langgeng? Atau takut ditinggalkan? Que sera sera artinya dalam hubungan adalah tentang memberi yang terbaik sebagai partner—setia, supportive, dan komunikatif—tanpa mencengkeram atau mengontrol pasangan. Kamu bisa berusaha membangun hubungan sehat, tapi kamu tidak bisa memaksa seseorang untuk tetap mencintaimu atau menjamin masa depan. Menerima hal ini justru membuat hubungan lebih rileks dan otentik.

3. Dalam Pengasuhan Anak (Seperti dalam Lagu)

Ini mungkin konteks paling kuat. Sebagai orang tua, kita punya harapan dan kekhawatiran besar untuk anak. Kita ingin mereka sukses, bahagia, terhindar dari sakit hati. Tapi pada titik tertentu, kita harus melepaskan. Kita memberikan mereka fondasi, nilai, dan pendidikan terbaik, lalu pada akhirnya kita harus percaya bahwa mereka akan menjalani jalan hidupnya sendiri. "Whatever will be, will be" adalah pengingat untuk orang tua agar tidak menjadi helicopter parent yang justru membatasi ruang gerak anak.

Yang Bukan Contoh Que Sera Sera yang Sehat:

  • "Ah, que sera sera, nggak usah belajar buat ujian besok. Biarin aja." (Ini kemalasan, bukan kebijaksanaan).
  • "Que sera sera, aku nggak akan minta maaf meski salah. Biarin hubungannya hancur." (Ini egois dan tidak bertanggung jawab).

Intinya, frasa ini datang SETELAH usaha maksimal, bukan sebagai pengganti usaha.

Kaitan dengan Filosofi Lain: Stoicism dan Mindfulness

Kalau kamu tertarik mendalami, que sera sera punya kemiripan dengan ajaran Stoa (Stoicism) dari Yunani Kuno. Filsuf seperti Marcus Aurelius dan Epictetus sering berbicara tentang "dikotomi kendali"—membedakan hal yang bisa dan tidak bisa kita kendalikan, dan hanya berfokus pada yang pertama. Serupa juga dengan konsep "acceptance" dalam terapi modern dan mindfulness, di mana kita belajar mengamati pikiran dan situasi tanpa langsung bereaksi atau menghakimi.

Frasa sederhana ini, dengan demikian, adalah pintu masuk yang mudah untuk melatih mental yang lebih resilien dan tenang.

Que Sera Sera di Era Media Sosial dan Perbandingan Sosial

Di era di mana kita terus-menerus disuguhi "highlight reel" kehidupan orang lain di Instagram, rasa tidak puas dan FOMO (Fear Of Missing Out) merajalela. Kita membandingkan jalan hidup kita dengan orang lain dan merasa tertinggal. Dalam konteks ini, que sera sera artinya adalah pengingat bahwa setiap orang punya jalur dan waktunya sendiri.

Kesuksesan temanmu yang sudah menikah, punya rumah, atau traveling keliling dunia adalah jalan hidupnya. Jalan hidupmu akan mengalir dengan caranya sendiri. Daripada membuang energi untuk iri atau cemas, lebih baik fokus pada pengembangan diri dan percaya bahwa apa yang memang untukmu, akan datang padamu di waktu yang tepat.

Menemukan Kedamaian dalam Ketidakpastian

Pada akhirnya, kekuatan terbesar dari filosofi que sera sera adalah kemampuannya untuk membawa kedamaian. Ketika kamu benar-benar menginternalisasi bahwa ada hal-hal di luar kendalimu, sebuah beban berat seolah terlepas dari pundak. Kamu bisa tidur lebih nyenyak karena tahu kamu sudah berusaha maksimal hari ini. Kamu bisa menghadapi badai hidup dengan lebih tegak karena percaya bahwa setelah hujan, ada kemungkinan pelangi—atau setidaknya, kamu akan belajar cara berteduh yang lebih baik.

Jadi, Bagaimana Kita Harus Menyikapinya?

Que Sera, Sera bukanlah mantra ajaib yang menghilangkan masalah. Ia adalah sebuah perspektif, sebuah cara memandang dunia. Ia mengajak kita untuk berani berusaha sepenuh hati sambil tetap merendahkan hati terhadap misteri masa depan.

Mulailah dengan hal kecil. Saat kamu terjebak macet, alih-alih marah-marah (sesuatu yang tidak bisa kamu kendalikan), tarik napas dan ucapkan dalam hati, "Que sera, sera". Saat menunggu kabar penting yang bikin deg-degan, ingatkan diri: "Aku sudah lakukan yang terbaik. Sekarang, biarkan semesta bekerja."

Dengan begitu, lagu lama yang sering kita anggap remeh itu ternyata menyimpan kebijaksanaan hidup yang sangat kekinian. Ia mengingatkan kita bahwa di tengah hiruk-pikuk rencana dan target, ada keindahan dalam menari mengikuti irama kehidupan yang tidak selalu bisa kita prediksi. Whatever will be, will be. The future's not ours to see. Dan mungkin, justru itulah yang membuat petualangan hidup ini begitu berharga.